Penduduk, Bencana, dan Perubahan Iklim

Evolusi dan Potensi Dampak Ikutan Nature-based Solution (NbS)7 min read

July 26, 2022 5 min read

Evolusi dan Potensi Dampak Ikutan Nature-based Solution (NbS)7 min read

Reading Time: 5 minutes

Laporan- laporan global yang terbit dalam sepuluh tahun terakhir terus meningkatkan peringatan terhadap situasi mendesak dampak tekanan aktivitas manusia terhadap sumberdaya alam dan  proses degradasi lingkungan yang terus berlangsung. Laporan tersebut dengan cermat tercatat dalam FAO, 2017; FAO, 2018; FAO, 2019; IPBES, 2019; dan IPCC, 2019.

Selain Sustainable Development Goals, Sendai Framework for DRR saat ini kita memasuki UN decade of Ecosystem Restoration (2021-2030). Semua komitmen global tersebut mendorong setiap negara berlomba mencapai target tahun 2030. Satu tahun berselang pasca UN decade of Ecosystem Restoration, pada Mei 2022, Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) di Bali mendorong untuk memberi perhatian kepada integrasi ekosistem alamiah  yang dapat menopang mata pencaharian, produksi pangan , konservasi, rehabilitasi ekosistem dan meningkatkan proses integrasi ekosistem alam dengan wilayah terbangun sekaligus mengurangi risiko bencana. 

Evolusi Nature -based Solution (Solusi berbasis Alam)

Konsep Nature – based Solution /NbS (Solusi Berbasis-Alam) muncul pada Desember 2009. Tawaran ini dituliskan dalam sebuah kertas posisi untuk UN Climate Negotiations di Copenhagen , tepatnya pada COP 15.  International Union for the Conservation of Nature (IUCN) menyatakan bahwa konsep NbS bersifat fluid “solusi berbasis alam untuk perubahan iklim adalah bagian integral dari rencana dan strategi adaptasi dan mitigasi yang lebih luas. 

Evolusi NbS diawali pada awal tahun 2000-an dan makin diperkuat pada tahun 2017, solusi berbasis alam (NbS) memperoleh dukungan kuat yang kemudian dipergunakan sebagai prinsip dan payung pendamping pendekatan teknologi (Hanson et al., 2020). Pada dasarnya NbS berakar dari diskursus tentang pemanfaatan jasa ekosistem (MEA, 2005; Nesshöver et al., 2017).  International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan setidaknya delapan prinsip untuk NBS (Cohen-Shacham et al., 2016; Cohen- Shacham et al., 2019) apabila diringkas prinsip tersebut merangkul norma-norma konservasi alam, menawarkan solusi skala lanskap yang inklusif dan pendekatan yang kerorientasi spesifik konteks wilayah, mengatasi tantangan sosial dengan tujuan menghasilkan manfaat sosial yang adil, memanfaatkan pengetahuan lokal dan ilmiah, mengatasi pertukaran temporal antara ekosistem dan ekonomi manfaat, dan merupakan bagian integral dari kerangka kebijakan, peraturan dan tata kelola. 

Mangrove dalam Praktik NbS

Hampir dua dekade yang lampau Norman Duke dkk dari University of Queensland, Australia mengirimkan sebuah surat kepada redaksi Science yang berjudul “ A World Without Mangroves?” (Duke dkk,2007). Surat tersebut menampilkan hasil pertemuan World Mangrove Experts yang diselenggarkan di Australia. Catatan penting hampir di akhir dekade pertama millennium baru menyayangkan bahwa kerusakan kecepatan mangrove yang mencapai 1-2 persen pertahun tidak pernah menjadi perhatian utama dalam tata kelola dan gerakan lingkungan. Bila melihat dalam pemanfaatannya, mangrove dianggap sebagai pengganggu aktivitas ekonomi sekaligus digunakan sebagai sumber keuntungan yang cepat dan mudah. Pola interaksi tersebut mendorong degradasi dan kerugian akibat eksploitasi ekosistem. 

Namun demikian, interaksi manusia dengan mengrove tidak selalu bersifat eksploitatif (Tabel 1). Sebuah contoh klasik pengecualian telah ditulis misalnya oleh Vannucci (1989) dengan judul “ The Mangrove and Us ”. Temuan tersebut melaporkan interaksi kelompok masyarakat tradisional di wilayah tropis yang memanfaatkan jasa lingkungan mangrove sambil menjaga keseimbangan ekosistem. Akan tetapi, kelompok tradisional ini telah mengalami berbagai tekanan dari akibat peningkatan aktivitas produksi yang akibatnya mereka makin tersingkir dan terpinggirkan secara sistematis akibat perusakan dan degradasi mangrove. 

Tabel 1. Pendekatan  Nature Based Solution (NbS) dalam pengurangan Risiko Bencana

Tipe BencanaJudul ArtikelPenulis
Banjir, gelombang panas Adapting cities for climate change: the role of the green infrastructureGill dkk. (2007)
Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim Nature-based solutions to climate change mitigation and adaptation in urban areas: perspectives on indicators, knowledge gaps, barriers, and opportunities for actionKabisch et al. (2016)
Banjir, kekeringan, longsor The superior effect of nature-based solutions in land management for enhancing ecosystem servicesKeesstra et al. (2018)
Mitigasi perubahan iklim diwilayah terbangunA framework for assessing and implementing the co-benefits of nature-based solutions in urban areasRaymond et al. (2017)
Tsunami, storm surge dan gelombang pasangGreen infrastructure for the reduction of coastal disasters: a review of the protective role of coastal forests against tsunami, storm surge, and wind wavesChang, C. W., & Mori, N. (2021)
Kebakaran hutan dan lahan, degradasi lahan gambutThe opportunity cost of delaying climate action: Peatland restoration and resilience to climate changeGlenk, K., Faccioli, M., Martin-Ortega, J., Schulze, C., & Potts, J. (2021).
Erosi wilayah pesisirAnalysis of Structural and Non-Structural Disaster Mitigation Due to Erosion in the Timbulsloko Village, Demak – Central JavaSugianto, D. N., Widiaratih, R., Widada, S., Handayani, E. P., & Cahyaningtyas, P. (2022)

Bagi Indonesia, restorasi ekosistem mangrove menjadi praktik “champion” dalam nature-based solution. Data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), rehabilitasi mangrove memanfaatkan APBN akan terus dilakukan seluas 2.000 ha setiap tahun. Berdasarkan hasil penyusunan One Map Mangrove Nasional sampai dengan tahun 2018, luas mangrove di Indonesia saat ini 3,79 juta ha dan menjadi yang terluas di dunia (Gambar 1).

Gambar 1. Area pembibitan mangrove pada area Mangrove Center, Kota Balikpapan (a) dan nelayan di desa Mentawir, Kalimantan Timur (Foto : Penulis)

Ditengah pandemi, dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) disampaikan kepada UNFCCC pada 22 July 2022. Isinya Indonesia  memperkuat target komitmen mereduksi emisi. Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah penguatan NbS diluar perlindungan terhadap bencana geohazard. hal tersebut dilakukan karena keberhasilan mencapai luasan restorasi mangrove yang tercapai pada tahun sebelumnya. 

Kekhawatiran Potensi Nbs Menuju Gerakan Greenwashing Dan Gentrifikasi

Kekhawatiran juga bermunculan terhadap perkembangan NbS, meskipun banyak bukti yang menampilkan berbagai keuntungan atas implementasi NbS. Setidaknya terdapat empat hal yang meggarisbawahi kekhawatiran tersebut :

  1. NbS digunakan sebagai “greenwashing”. Praktik ini ditengarai dilakukan oleh perusahaan yang bertanggungjawab atas sebagian besar kerusakan terhadap iklim dan alam yang sedang berlangsung. Perusahaan tersebut mengklaim mendukung gerakan lingkungan, karena mereka telah berinvestasi dalam apa yang disebut skema NbS, meskipun pada saat yang sama melakukan eksploitasi terhadap lingkungan.
  2. Penyalahgunaan NbS memiliki peran membahayakan keanegakaraman hayati. Tingginya intervensi pendanaan atas aksi penanaman pohon telah merambah ekosistem yang sebelumnya tidak berhutan. Situasi ini bukan menuju perlindungan dan restorasi eksosistem, sebaliknya menjadi bumerang untuk memenuhi komitmen terhadap Paris agreement. 
  3. Intervensi dan prakti NbS hingga saat ini sebagian besar diimplementasikan melalui tindakan top-down. Skema ini tidak menghormati hak-hak masyarakat lokal; tidak meperdulikan suara , nilai dan pengetahuan lokal dalam pengambilan keputusan. Prinsip pemahaman bahwa krisis ekologi tidak sama bagi semua orang tidak dijadikan pertimbangan.  Pada akhirnya melanggengkan praktik asimetri kekuasaan.
  4. Pada wilayah perkotaan dengan proses pembangunan yang sedang masif, pendekatan keberlanjutan pembangunan yang mempertemukan grey infrastruktur dan pembangunan berbasis ekosistem dokumen tata ruang dilakukan. Proses tersebut mengakomodir proses “upscalling” suatu wilayah dengan dalih normalisasi sungai disambung dengan aktivitas penghijauan bantaran sungai – mendorong pemindahan kelompok marginal dengan dalih ancaman “unsustainable growth”. Proses gentrifikasi atas nama pengurangan risiko berbasis NbS kemudian berpotensi terjadi.

Seminar Nasional Seminar Nasional Nature- based Solution

Pada hari Selasa, 26 Juli 2022 seminar nasional Nature-based solution : solusi berkelanjutan untuk penguatan pengurangan risiko bencana diselenggarakan oleh  Pusat Riset Kependudukan dan Pusat Riset Geologi dan Kebencanaan BRIN. Empat orang pembicara memaparkan materi yang berkesinambungan. Dr. Andi Eka Sakya memaparkan komitmen Indonesia dalam Bali agenda for resilience. Pembicara kedua adalah Dr. Anisa Triyanti dari Utrecht University mendiskusikan mangrove ecosystems in Indonesia and governance challenges to building resilience.

Sebagai temuan empiris, Gusti Ayu Ketut Surtiari memaparkan riset rumah program yang bekerjasama dalam konsorsium SATREPS. Studi tersebut berjudul mangrove dan ketahanan masyarakat pesisir menghadapi bencana : perlukah pemanfaatan teknologi. Praktik di tingkat lokal sampaikan oleh penerima Kalpataru 2017 sekaligus pendiri Mangrove Center Graha Indah yang berlokasi di Balikpapan Kalimantan Timur Bapak Agus Bei. 

Gambar 2. Dr. Andi Eka Sakya dari Pusat Riset Geologi dan Kebencanaan BRIN menjadi salah satu pembicara

Seminar ini merupakan refleksi dan tindak lanjut pasca 7th GPDRR 2022 untuk mewujudkan “From Risk to Sustainable Resilience”. Penyelenggaran seminar nasional bertepatan dengan peringatan hari mangrove sedunia 26 Juli 2022. 

Untuk materi paparan dari pembicara dapat diakses pada tautan ini dan rekaman diskusi dapat diakses disini.

Ditulis oleh: Syarifah Aini Dalimunthe – Peneliti di Pusat Riset Kependudukan BRIN

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *