SDM Pendidikan

Beban Berganda Perempuan5 min read

April 21, 2023 4 min read

author:

Beban Berganda Perempuan5 min read

Reading Time: 4 minutes

R.A. Kartini pernah menjadi gambaran  karakteristik “gadis modern” dengan karakteristik antara lain memiliki keberanian, yang  mampu berdikari, yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah tegap, riang, gembira, penuh semangat, dan asyik. Selain itu, R.A. Kartini juga menggambarkan gadis modern sebagai sosok yang selalu bekerja untuk kepentingan masyarakat luas dan kebahagiaan sesama, tidak semata untuk kepentingan dan kebahagiaan diri sendiri.

Penggambaran karakter “gadis modern” tersebut sebetulnya merujuk pada profil Estelle Zeehandelar atau kerap disapa oleh R.A Kartini dalam surat-suratnya dengan Stella. Stella adalah salah satu sahabat pena R.A. Kartini, merupakan seorang gadis kelahiran Amsterdam yang berusia lima tahun lebih tua dari R.A. Kartini. Berbagai literatur sejarah menggambarkan Stella sebagai figur yang idealis, sosialis, feminis dan giat berupaya mempertahankan hak-hak perempuan. Stella pun menjadi figur yang fit the profile bagi R.A. Kartini untuk saling tukar pemikiran.

Pemikiran R.A. Kartini mengenai profil “gadis modern” sebetulnya telah dituliskan lebih dari satu abad lalu, namun apabila direfleksikan kembali masih sangat relevan dengan situasi dan kondisi pada saat ini. Banyak kisah dapat ditemukan di sekitar kita yang menggambarkan kegigihan kaum perempuan dalam berjuang menghadapi masa sulit selama pandemi Covid-19 .

Pembelajaran dari Pandemi: Beban Berganda Perempuan di Masa Pandemi

Beban berganda perempuan sebetulnya tidak hanya terjadi di masa pandemi Covid-19. Beban ganda atau double burden didefinisikan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sebagai beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Dalam konteks ini beban pekerjaan perempuan relatif lebih banyak dibandingkan laki-laki. Sosok “gadis modern” seperti yang digambarkan oleh Kartini pada saat ini sudah lazim yaitu perempuan bekerja secara profesional di ranah publik. Namun, di saat yang bersamaan perempuan juga tetap memegang tanggung jawab di ranah domestik rumah tangga atau keluarga. Keharusan perempuan untuk menjalankan peran di ranah publik dan ranah domestik secara bersamaan ini yang pada akhirnya memunculkan double burden bagi perempuan.

Terjadinya pandemi Covid-19 semakin melipatgandakan beban bagi perempuan. Pada sekitar bulan Mei 2020, saya terlibat dalam suatu survei cepat terkait dampak darurat virus corona terhadap tenaga kerja di Indonesia yang dilaksanakan oleh tim peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI bersama dengan Lembaga Demografi FEB UI. Salah satu hasil yang menarik menurut saya dari hasil survei tersebut yaitu dari keseluruhan responden survei yang menyatakan harus bekerja dari rumah (work from home) 47% di antaranya merupakan pekerja perempuan. Hal ini menjadi menarik karena ketika perempuan harus bekerja dari rumah maka batas peran sebagai profesional di ranah publik dan peran domestik menjadi sangat abu-abu atau tidak jelas batasannya. Ketidakjelasan batasan kedua peran tersebut pada akhirnya menjadikan beban perempuan menjadi semakin berlipat ganda.

Kita pasti sering mendengar kisah seorang ibu yang bekerja profesional berada pada posisi dilematis ketika harus mengikuti rapat penting secara daring (online), namun di saat bersamaan anaknya merajuk pada sang ibu untuk memperoleh perhatian. Kisah lain yang rasanya juga sering kita dengar yaitu ketika pandemi Covid-19 memaksa anak-anak sekolah harus melakukan aktivitas sekolah atau belajar dari rumah yang pada akhirnya memaksa seorang ibu harus berperan juga sebagai seorang “guru” atau fasilitator untuk proses belajar sang anak. Saya ingat pernah satu malam, waktu itu mungkin sekitar pukul 22.00 WIB, pintu rumah saya diketuk oleh seorang ibu untuk meminjam bola sepak karena mendadak baru diberitahu anaknya bahwa besok paginya sang anak harus membuat video untuk penilaian pelajaran olah raga yang menjadi tugas dari sekolah. Beberapa kisah tersebut rasanya menggambarkan betapa pandemi Covid-19 semakin melipatgandakan beban perempuan.

Pendidikan untuk Perempuan Menjadi sangat Penting

Pendidikan menjadi faktor yang sangat penting bagi perempuan untuk dapat menjalankan peran dalam ranah profesional maupun domestik secara seimbang dan memperoleh hasil yang optimal. Pendidikan bagi perempuan pun menjadi misi utama yang selalu dicita-citakan dan diperjuangkan oleh Kartini. Pendidikan untuk rakyat harus dimulai dari perempuan begitulah kira-kira poin penting pemikiran Kartini. Hal tersebut dapat dilihat pada salah satu surat dalam Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” tertanggal 19 April 1903, RA. Kartini dan RA. Roekmini (adik dari RA. Kartini) menyampaikan surat permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda yang pada saat itu berkuasa. Inti dari surat permohonan tersebut yaitu agar RA Kartini dan RA Roekmini diberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan. Untuk menutup tulisan ini, saya akan mengutip satu paragraf dari surat yang ditulis dengan sangat indah oleh RA Kartini dan RA Roekmini tersebut:

“Setelah ayah dan ibu menyetujui maksud kami dan mereka memberi kami izin sepenuhnya untuk mengabdikan diri kepada Pendidikan akal dan budi bagi masa depan kaum perempuan kami, sekarang ingin sekali kami oleh pemerintah diberi kesempatan belajar di Betawi untuk tugas yang hendak kami jalankan. Roekmini ingin belajar menggambar, ilmu kesehatan, ilmu merawat orang sakit dan ilmu membalut serta jahit-menjahit, merenda, menyulam dan sebagainya. Sedangkan Kartini dalam bidang pengajaran. Dan kelak bila kami telah tamat, akan mendirikan sekolah swasta dengan pemondokan di Magelang atau Salatiga untuk anak-anak perempuan kepala-kepala Bumiputra”.

Perlu Didorong Keseimbangan Pembagian Peran Ayah di Ranah Domestik

Seperti yang telah dijelaskan oleh Kementerian PPPA, double burden bagi perempuan muncul karena beban pekerjaan bagi perempuan cenderung lebih banyak dibandingkan laki-laki, dalam hal ini terutama bagi perempuan yang harus bekerja di ranah profesional. Belajar dari berbagai pengalaman yang muncul selama pandemi Covid-19, perlu didorong keseimbangan pembagian peran seorang ayah dalam pendampingan anak. Misalnya dalam pendampingan pendidikan anak-anaknya, seorang ayah setidaknya dapat ikut mengambil tanggung jawab dan ikut berperan. Ayah dapat berperan untuk mendampingi ketika anak harus menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru di sekolah.

Melalui upaya membangun keseimbangan pembagian peran orang tua di ranah domestik diharapkan akan dapat mengurangi besarnya beban ganda yang harus ditanggung seorang ibu. Beban tersebut setidaknya dapat dibagi secara adil diantara Ayah dan Ibu.

Referensi:

Kartini. (2017). Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis Tot Licht). Yogyakarta: Narasi

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2022). Glosary Ketidakadilan Gender. Diakses dari https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/view/23 

Fikri Muslim

Peneliti Kelompok Riset Pemuda, Modal Manusia dan Masa Depan PekerjaanPusat Riset Kependudukan BRIN

Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *