Seputar Kegiatan PPK

Konservasi, Menyeimbangkan Kepentingan Penduduk dalam Pengelolaan Lingkungan2 min read

February 23, 2021 2 min read

author:

Konservasi, Menyeimbangkan Kepentingan Penduduk dalam Pengelolaan Lingkungan2 min read

Reading Time: 2 minutes

Jakarta,Humas LIPI. Dampak kebakaran  hutan dan lahan (karhutla) sangat buruk, baik bagi kesehatan manusia maupun lingkungan hidup. Karhutla harusnya dapat dijadikan pemicu masyarakat akan pentingnya pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan mendorong kesadaran penduduk dalam menjaga dan membangun lingkungan.

Idealnya pengelolaan lingkungan tidak hanya berorientasi kepada kebutuhan penduduk semata, tetapi harus mengutamakan konservasi untuk menjaga ketahanan dan fungsi lingkungan hidup.

Herry Yogaswara, Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, menyatakan bahwa sejak 2001, penelitian terkait penduduk dan lingkungan telah dilaksanakan untuk menjawab tantangan paradigma baru kependudukan. “Ketika berbicara penduduk dan Lingkungan antara subsistensi dan keberlanjutan tidak harus menjadi sesuatu yang dipertentangkan,” ungkapnya dalam pembukaan Webinar ‘Penduduk dan Lingkungan: Antara Subsistensi dan Keberlanjutan’, pada Senin (22/2).

Herry mengatakan diskusi ini merupakan hal yang penting bagi lembaga riset untuk mempelajari bagaimana seharusnya kebijakan pemerintah pusat dan daerah, dalam mengatur terciptanya keberlanjutan dan keseimbangan antara pola pemanfaatan SDA dan kelestariaannya.

Penurunan keragaman keanekaragaman hayati beserta penyebabnya seperti degradasi lahan akibat kebakaran hutan dan lahan, akan disoroti sebagai langkah mengkomunikasikan hasil riset.

Ali Yansyah Abdurrahim, Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI mengatakan, dalam hal kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat, dalam penelitiannya mencatat, Sub-Lanskap Pematang Gadung di Kecamatan Matan Hilir Selatan menjadi salah satu lokasi karhutla terparah. “Kejadian tersebut tentunya berdampak buruk pada keberlanjutan pengelolaan Sub-Lanskap Pematang Gadung, baik aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi,” tegasnya.

“Ada beberapa alasan dipilihnya fokus di tempat ini, ” jelas Ali.  Kegiatan penanggulangan karhutla di Kabupaten Ketapang selalu dilakukan setiap tahun. Namun, lebih banyak dilakukan pada aspek pemadaman saja, tanpa adanya program pencegahan yang holistik dan terprogram dengan baik.

Program pencegahan perlu aksi kolektif yang nyata untuk memberikan pembelajaran sosial. Oleh karena itu, diperlukan contoh lokasi pelaksanaan yang tepat agar bisa diadopsi dan direplikasi.

Sub-Lanskap Pematang Gadung dipilih menjadi lokasi karena memiliki berbagai persoalan yang sangat kompleks terkait karhutla.

Kerusakan ekologi akibat karhutla telah mengancam keberlanjutan penghidupan (livelihood) masyarakat lokal yang sangat tergantung pada kondisi SDA di Sub-Lanskap Pematang Gadung. Kajian-kajian serupayang dilakukan oleh Ali dilaksanakan sebagai upaya mencegah Karhutla dan memetakan pihak-pihak yang menjadi pemangku kepentingan. “Aksi-aksi kolaboratif sangat diperlukan dalam berbagai Langkah dan Kebijakan yang berbasis kepada pengelolaan alam beserta sumber daya yang berada di dalamnya,” tegas Ali.

Ali menegaskan, ada temuan penting dalam analisis tersebut. ‘Pihak-pihak tak terlihat’ (Hidden Stakeholders) tidak pernah dilibatkan dalam upaya-upaya penanggulangan karhutla. Padahal, dalam realitasnya, aktivitas mereka diduga menjadi pemicu kejadian karhutla.

Mereka adalah pembalak liar, pemburu satwa liar, pencari ikan air tawar, dan penambang ilegal. Secara umum, semua pihak yang berhasil dipetakan mendukung program pencegahan karhutla, termasuk kelompok tani sawit dan padi selama budidaya & produksi tanamannya tidak terganggu.

Keterlibatan LIPI selama ini dalam melakukan penelitian dan pengembangan telah bermitra dengan berbagai stakeholder, baik dengan Kementerian, Lembaga, Perguruan Tinggi, Organisasi Kepakaran dan Profesi terkait termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat. Pusat Penelitian Kependudukan LIPI bermitra dengan YKRASI. Kolaborasi melalui program sosialisasi konservasi ini bertujuan menggali berbagai potensi yang sesuai dengan kondisi dan aktivitas dalam membangun kesadaran dan kecintaan penduduk terhadap SDA setempat.(swa/ed:mtr)  

Author

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *